Assalaamu‘alaikum Wr Wb
Pertanyaan Hampir tiap tahun kita selalu diberikan persoalan-persoalan
yang menurut saya belum tuntas, karena setiap tahun pertanyaan itu
selalu timbul” Bolehkah kita memberikan ucapan selamat Natal pada umat
Nasrani” yang merayakannya pada tiap tanggal 25 Desember?, walupun
fatwa dari MUI sudah ada namun sekarang ada buku karangan Dr.Quraisj
Shihab ( SELAMAT NATAL MENURUT AL QURAN )yang membahas mengenai timbul
pro dan kontranya tentang hal tersebut. Jadi menurut hukum Islam yang
mana yang benar, agar umat tidak ragu-ragu dalam menjalankan syariat
dan kerukunan beragama. Terima kasih atas jawabannya, atau solusi yang
benar-benar bisa membuat hati kita benar-benar plong
menerimanya/melakukannya.
Wassalam
M. Kahar Aidil. RD
2002-11-14 16:40:00
Jawaban:
Mengucapkan selamat natal itu sebenarnya punya makna yang mendalam dari
sekedar basa-basi antar agama. Karena tiap upacara dan perayaan tiap
agama memiliki nilai sakral dan berkaitan dengan kepercayaan dan akidah
masing-masing.
Karena itu masalah mengucapkan selamat kepada penganut agama lain tidak
sesedarhana yang dibayangkan. Sama tidak sederhananya bila seorang
mengucapkan dua kalimat syahadat. Syahadatian itu punya makna yang
sangat mendalam dan konsekuensi hukum yang tidak sederhana. Termasuk
hingga masalah warisan, hubungan suami istri, status anak dan
seterusnya. Padahal cuma dua penggal kalimat yang siapa pun mudah
mengucapkannya.
Nah, dalam hal ini pengucapan tahni‘ah (ucapan selamat) natal kepada
nashrani juga memiliki implikasi hukum yang tidak sederhana. Benar
bahwa muslimin menghormati dan menghargai kepercayaan agama lain bahkan
melindungi bila mereka zimmi. Namun perlu diberi garis tengah yang
jelas. Manakah batasan hormat dan ridha disini. Hormat adalah suatu hal
dan ridha adalah yang lain.
Kita hormati nasrani karena memang itu kewajiban. Hak-hak mereka kita
penuhi karena itu kewajiban. Tapi memberi ucapan selamat, ini mempunyai
makna ridha, artinya kita rela dan mengakui apa yang mereka yakini. Ini
sudah jelas masuk masalah akidah. Dan inilah yang menjadi batas tegas
disini.
Jangan sampai ada perasaan takut di hati para tokoh agama kita bila
belum mengucapkan selamat natal, maka kita kurang toleran, kurang ramah
dan kurang menghargai agama lain. Ini penyakit kejiwaan yang hingga dalam lubuk sanubari kebanyakan kita. Sehingga terkadang menjelma
menjadi sikap yang kurang tepat.
Bila kita tidak mengucapkan selamat natal bukan berarti kita tidak
ingin adanya persaudaraan dan perdamaian antar penganut agama. Bahkan
sebenarnya tidak perlu lagi umat Islam ini diajari tentang toleransi
dan kerukunan. Adanya orang nasrani di Republik ini dan bisa beribadah
dengan tenang selama ratusan tahun adalah bukti kongkrit bahwa umat
Islam menghormati mereka. Toh mereka bisa hidup tenang tanpa kesulitan.
Bandingkan dengan negeri dimana umat Islam minoritas, bagaimana mereka
diteror, dipaksa, dipersulit, dibuat tidak betah, diganggu dan
dianiyaya. Dan fakta-fakta itu bukan isapan jempol. Hal itu terjadi
dimana pun dimana ada umat Islam yang minoritas baik eropa, amerika,
australia dan sebagainya.
Jadi tidak mengucapkan selamat natal itu justru toleransi dan saling
menghormati akidah masing-masing. Dan sebaliknya, saling memberi ucapan
selamat justru menginjak-injak akidah masing-masing karena secara sadar
kita melecehkan akidah yang kita anut.
Wallahu a‘lam bis-shawab.
source : NN
Filed under: Agama Islam







Betul, setuju banget dengan uraian diatas. Kalo ngasi selamat, hanya untuk basa-basi ato demi persahabatan malah menodai persahabatan itu sendiri.
I’m a christian but I do agree with what imansyah said. Dan aku jg sama sekali g merasa tersinggung ato memutuskan persahabatan kalo temenku yg muslim g ngucapin merry x-mas. Dan itu sama sekali g ngurangin makna natal untuk aku.
Dan aku juga paling g setuju ama acara natal bersama (dihadiri pemuka agama berbagan agama) ato buka puasa bersama(dihadiri oleh orang2 yg g puasa). Ngapain coba kita ikut2 ngerayain apa yg kita percayai???
Ngapain coba kita ikut2 ngerayain apa yg kita percayai???
Ups salah tulis maksudnya ngapain kita ikut2an merayakan sesuatu yg g kita percayai
Buat SAYA pribadi. Seandainya..saya..ucap selamat natal pada mereka, saya malah merasa, sama saja saya anggap semua agama itu paslu. Seperti ini :
” Ah ini cuma perbedaan saya lahir di mana dan dari siapa, met natal ya, sori kita ga bisa bareng2, ‘cabang’ agama yang saya anut sudah merayakan hari besar kemarin..”
Jadi saya tidak melakukannya. Berhati – hatilah pada yang melakukannya. jangan – jangan kadar keimanan menipis..
Lagi pula posisi Nabi Isa A.S, dimata mereka termasuk saat natal beda dengan pandangan Al Quran contohnya surat Al-Maidha : 72
Tiap penghujung tahun miladiyah, pembahasan ini selalu dibahas, tapi memang sangat perlu untuk membentengi akidah Ummat agar tidak latah dengan kesyirikan mereka.